Jul
7
2011

Menyulap Limbah Kain Jadi ‘Keset’

Dedi Mulyadi Ali :

Menyulap Limbah Kain Jadi ‘Keset’

 Menyulap Limbah Kain Jadi Keset

BERKAT tangan-tangan terampil, limbah kain bekas dari industri garmen yang sebelumnya dianggap sudah tidak memiliki nilai ekonomis lagi, ternyata mampu menjadi barang yang mampu menghasilkan rupiah. Limbah kain perca inilah yang kini dapat menghidupi sejumlah rumah tangga sekitar kampung Gondoriyo, Kecamatan Ngaliyan, Semarang, setelah disulap menjadi ‘keset’.

Adalah H. Dedi Mulyadi Ali, warga Bukit Semarang Baru (BSB) yang memanfaatkan peluang usaha dan memberdayakan masyarakat sekitar. Idenya muncul tatkala dia kerapkali menjumpai limbah kain perca di sejumlah industri garmen yang hanya teronggok tak berguna. Melihat kondisi demikian, bapak 3 putra yang kebetulan bekerja di perusahaan garmen sejak puluhan tahun ini lantas tergerak untuk mencoba mencari peluang dalam memanfaatkan limbah tersebut.

Setelah melakukan survei ke sentra-sentra industri yang ada di Jawa Timur, terlintaslah ide untuk menyulap limbah kain perca itu menjadi ‘keset’ (alas kaki). Setelah melalui berbagai proses uji coba dan pembuatan alat-alat serta mesin pendukung industri yang sederhana, maka pada tahun 2008 dirintisnya home industri berbasis limbah kain perca itu.

Sejak berdirinya hingga saat ini, setidaknya ada 6 karyawan tetap yang membantunya merangkai keset. Selain itu, industri ini juga memberdayakan warga di lingkungan sekitar, yang membantu dengan pembuatan uliran kain dengan kain perca.

“Kami berusaha memberdayakan masyarakat di lingkungan sekitar, dengan cara menyuplai kain perca ke sejumlah rumah tangga untuk dibuat ulir, dan kemudian menyetorkannya kembali dengan upah Rp300/kilogram,” kata pria kelahiran  Menyulap Limbah Kain Jadi Keset

Aceh 48 silam ini.

Menurut Dedi, meski program keterlibatannya dengan masyarakat ini baru mulai dirintis, namun keterlibatan masyarakat di sekitarnya sudah cukup tinggi. Setidaknya kini ada 60 rumah tangga yang bersedia melakukan kemitraan ini.

“Kami berharap program ini bisa menjadi program kemitraan yang setidaknya dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk menambah penghasilan, dan setidaknya kami mentargetkan ada 200 rumah tangga yang nantinya dapat bergabung dan terbentuk sistem klaster industri,” harap Dedi saat ditemui di home industrinya.

Melalui program kemitraan dengan warga sekitar, kini setidaknya dalam sebulan rata-rata dapat diproduksi lebih dari 2.000 pieces keset beraneka macam variasi. Bahkan, dengan ide dan kreatifitasnya, kini tak hanya keset saja yang diproduksi, tetapi juga kain pel, tali, dan sumbu kompor yang volume produksinya masih tergolong minim.

Saat ini setidaknya ada 4 macam variasi keset, yakni keset tenun, bidangan, mutiara dan oval,” ujar mantan atlit tinju nasional, yang kini aktif sebagai pembina tinju di Pertina Kota Semarang.

Untuk bahan baku, lanjutnya, saat ini pihaknya menampung dari berbagai industri garmen yang ada dengan modal pembelian Rp1.250/kilogram. Selain itu, dibutuhkan pula benang seharga Rp300 per gulungan.

 Menyulap Limbah Kain Jadi Keset

“Harga jual untuk per pieces dihargai Rp7.500, dan untuk pembelian dalam jumlah kodi dihargai Rp4.500/pices,” terangnya.

Sedangkan soal pasar penjualan, selain dipasarkan di lokal Semarang, kini produk keset tersebut juga telah menembus pasar luar Jawa, seperti Sumatra. Selain itu, permintaan dalam partai besar juga banyak berdatangan dari Jakarta, Sumatra, dan Kalimantan.

“Untuk pasar Semarang sendiri kini sekitar 50% dan sisanya 50% untuk memenuhi permintaan dari luar kota,” pungkasnya. (alien)

 

 

Belajar Membaca Peluang Bisnis

BERBEKAL pengalamannya di dunia usaha, lelaki kelahiran Banda Aceh 13 Maret 1963 silam ini nampaknya tak pernah mau berhenti untuk berinovasi. Ide kreatifnya selalu muncul tatkala dia melihat adanya peluang-peluang bisnis yang cukup menggiurkan.

 Menyulap Limbah Kain Jadi Keset
“Saya memang selalu ingin mencoba hal baru sebagai tantangan, khususnya dalam memanfaatkan peluang bisnis yang ada,” ujar Dedi Mulyadi Ali.

Keinginannya untuk membuka peluang usaha ini juga didukung dengan adanya niat untuk memberikan lapangan kerja bagi masyarakat di sekelilingnya. Maka dibuatlah home industri keset, yang berpusat di Perumnas Bukit Beringin Lestari Kapling 33, Ngaliyan, Semarang.

“Ide ini sebenarnya muncul pertama kali saat melihat banyaknya kain perca sisa industri garmen yang hanya dijadikan sebagai sampah saja,” kata Dedi, yang kini aktif sebagai Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng.

Menurutnya, teramat disayangkan jika sampah industri tersebut harus terbuang sia-sia. Sedangkan dalam suatu perjalanan ke Jawa Timur, yakni di daerah Malang, sempat dilihatnya  kain perca untuk alas buah yang sebenarnya tidak memiliki nilai ekonomis tinggi. Begitu pula ada yang hanya dijadikan bahan isian pembuatan jok maupun kasur.

“Dari situlah saya mencoba membaca peluang bisnis dari kain perca agar lebih memiliki nilai ekonomis yang tinggi,” terang Dedi, yang telah lama berkecimpung di industri garmen di Semarang.

Dari pengamatan itulah, Dedi lantas berpikiran untuk menjadikan kain perca tersebut dalam bentuk keset. Namun, pada awalnya memang tidak mudah untuk membentuk sebuah keset secara praktis. Untuk itu, dia berupaya merekayasa pembuatan mesin khusus untuk mengulir kain-kain perca yang ada dan juga mesin tenun.

“Mesin yang ada cukup sederhana, dan merupakan hasil rekayasa sendiri untuk mempermudah pekerjaan membuat keset,” jelasnya.

Saat ini, sejak awal berdiri hingga kini setidaknya ada 4 mesin hasil rekayasa yang telah dimiliki untuk mempropduksi keset. Selain itu, untuk memperbanyak volume produksi, kini pembuatan keset juga melibatkan warga di sekitarnya. (alien)

 

Sumber dikutip dari : http://alienjozz.multiply.com/journal/item/3/Menyulap_Limbah_Kain_Jadi_Keset

Comments are closed.

modal_jempol
mlm_software

Follow Me !

Alamat Kami

Barokah Stocklot's
Taman Pondok Mas Indah
Jl. Pondok Mas Tengah No. 8 Baros
Cimahi - Bandung
Jawa Barat Indonesia 40532

Arah TOL Pasteur - Bandung
Keluar TOL Cimahi-Baros-Leuwigajah
Depan Apartement The EDGE
CONDOTEL HORIZON BAROS

KAMI RUMAH
DEPAN MASJID PONDOK MAS
BUKAN RUKO..Lhoo:)
TIDAK BUKA RETAIL/TOKO
JANGAN SALAH MASUK YAA..:)


HOTLINE
081 22 01234 04
0818 203 999

PIN BB : 2A9274C4

.:: Jam Operasional ::.
Senin - Sabtu : 09.00 - 17.00
Minggu : TUTUP
Hari Libur Nasional : TUTUP
*Konfirmasi sebelum datang.

PETA LOKASI

Click to open larger map

Blog Traffic

Pages

Pages|Hits |Unique

  • Last 24 hours: 2,020
  • Last 7 days: 13,471
  • Last 30 days: 59,892
  • Online now: 5

Facebook



Page Rank
Close